Al-Hadits

Memahami Hadits Nabi Sesuai Pemahaman Salafush-Shalih

Hisyaam bin ‘Urwah

pada 27 Februari 2015

Nama dan nasab beliau adalah Hisyaam bin ‘Urwah bin Az-Zubair bin Al-‘Awwaam bin Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzzaa bin Qushay bin Kilaab Al-Qurasyiy Al-Madaniy, Abul Mundzir atau Abu ‘Abdillaah atau Abu Bakr Al-Asadiy tsumma Al-Baghdaadiy. Al-Imam Adz-Dzahabiy mensifatinya dengan “Al-Imam Ats-Tsiqah Syaikhul Islaam” yang kalau diterjemahkan menjadi : seorang imam yang tsiqah, guru besar Islam, sebuah pujian yang amat tinggi yang pantas disematkan kepada seorang ulama besar.

Bukan hanya Adz-Dzahabiy, para imam ahli hadits pun memberikan ta’dil (pujian) yang tinggi kepada Hisyaam, diantaranya adalah :

1. ‘Aliy bin Al-Madiiniy

قال البخاري، عن علي بن المديني: له نحو أربعمائة حديث

Al-Bukhaariy berkata, dari ‘Aliy bin Al-Madiiniy, “Ia mempunyai sekitar 400 hadits.”

2. Muhammad bin Sa’d dan Ahmad bin ‘Abdillaah Al-‘Ijliy

قال محمد بن سعد، والعجلي: كان ثقة، زاد ابن سعد: ثبتا كثير الحديث حجة

Muhammad bin Sa’d dan Al-‘Ijliy berkata, “Ia seorang yang tsiqah.” Ibnu Sa’d menambahkan, “Orang yang tsabt, banyak haditsnya dan ia hujjah[1].”

3. Yahyaa bin Ma’iin

قال عثمان بن سعيد الدارمي، قلت: ليحيى بن معين هشام بن عروة أحب إليك، عن أبيه أو الزهري، فقال كلاهما: ولم يفضل

‘Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimiy berkata, aku bertanya kepada Yahyaa bin Ma’iin, “Hisyaam bin ‘Urwah dari Ayahnya lebih kau sukai, ataukah Az-Zuhriy (dari ‘Urwah)?” Ibnu Ma’iin menjawab, “Keduanya, dan tidak kuutamakan salah satunya.”

4. Abu Haatim Muhammad bin Idriis bin Al-Mundzir Ar-Raaziy

قال أبو حاتم: ثقة إمام في الحديث

Abu Haatim berkata, “Tsiqah, seorang imam (panutan) dalam hadits[2].”

5. Ya’quub bin Syaibah

قال يعقوب بن شيبة: ثبت ثقة، لم ينكر عليه شيء إلا بعد ما صار إلى العراق، فإنه انبسط في الرواية، عن أبيه، فأنكر ذلك عليه أهل بلده، والذي يرى أن هشاما يسهل لأهل العراق، أنه كان لا يحدث عن أبيه إلا بما سمعه منه، فكان تسهله أنه أرسل عن أبيه، مما كان يسمعه من غير أبيه، عن أبيه

Ya’quub bin Syaibah berkata, “Orang yang tsabt lagi tsiqah, haditsnya tidak diingkari sedikitpun kecuali setelah pindah menuju ‘Iraaq karena ia kadang melebihkan dalam riwayat dari Ayahnya (‘Urwah), maka aku mengingkari yang demikian atas apa yang ia lakukan pada penduduk negerinya. Bagi yang menganggap Hisyaam menyingkat (sanadnya) kepada penduduk ‘Iraaq adalah bahwa ia tidak meriwayatkan dari Ayahnya kecuali dengan perantara orang yang ia mendengarnya darinya, maka ia pun menyingkat dan meng-irsal sanadnya dari Ayahnya, padahal ia mendengarnya dari orang selain Ayahnya dan orang tersebut meriwayatkan dari Ayahnya.”

6. Wuhaib bin Khaalid

قال موسى بن إسماعيل، عن وهيب بن خالد قدم علينا هشام بن عروة، فكان فينا مثل الحسن، وابن سيرين

Muusaa bin Ismaa’iil berkata, dari Wuhaib bin Khaalid, “Hisyaam bin ‘Urwah datang kepada kami, maka seakan-akan kami memiliki orang yang seperti Al-Hasan (Al-Bashriy) dan Ibnu Siiriin.”

7. Ibnu Hibbaan Abu Haatim Al-Bustiy

Ia menyebutkan Hisyaam bin ‘Urwah dalam kitab Ats-Tsiqaat, kemudian berkata :

وكان حافظا متقنا ورعا فاضلا

“Seorang haafizh mutqin lagi wara’ dan mempunyai keutamaan.”

8. Abu ‘Abdillaah Adz-Dzahabiy

Telah kami sebutkan diatas, pujian Adz-Dzahabiy pada Hisyaam, dan dalam kitab Al-Miizaan, Adz-Dzahabiy berkata :

أحد الاعلام . حجة إمام ، لكن في الكبر تناقص حفظه ، ولم يختلط أبدا

“Ahadul a’laam (salah satu ahli ilmu), hujjah dan seorang imam. Akan tetapi ketika tua hapalannya berkurang dan tidak pernah mengalami ikhtilath.”

9. Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy

ثقة فقيه ربما دلس

“Tsiqah, orang yang faqiih, kemungkinan melakukan tadlis.”

Sementara dalam Hadyu As-Saariy :

مجمع على تثبيته إلا أنه في كبره تغير حفظه فتغير حديث من سمع منه في قدمته الثالثة إلى العراق وقد احتج به جميع الأئمة

“Disepakati akan tsabt-nya kecuali bahwa di masa tuanya hapalannya berubah maka berubah pula hadits orang-orang yang mendengar darinya ketika kedatangannya ke ‘Iraaq yang ketiga kali. Dan sungguh haditsnya telah dijadikan hujjah oleh seluruh imam hadits.”

Dari pemaparan para imam diatas, terlihat bahwa mereka menjunjung tinggi status Hisyaam bin ‘Urwah disamping ada kemungkinan tadlis[3] yang ia lakukan ketika menetap di ‘Iraaq. Namun, bagaimanapun juga para imam tersebut tidaklah serta merta menolak hadits-hadits Hisyaam begitu saja melainkan mereka bersikap hati-hati terhadapnya.

Sebagaimana yang dinukil oleh ‘Abdurrahman bin Khiraasy :

كان مالك لا يرضاه، وكان هشام صدوقا تدخل أخباره في الصحيح، بلغني أن مالكا نقم عليه حديثه لأهل العراق، قدم الكوفة ثلاث مرات، قدمة كان يقول: حدثني أبي، قال: سمعت عائشة، وقدم الثانية، فكان يقول: أخبرني أبي، عن عائشة، وقدم الثالثة، فكان يقول أبي، عن عائشة

“Maalik tidak meridhainya walau Hisyaam seorang yang shaduuq dan khabar-khabarnya tergolong khabar yang shahih. Telah sampai kepadaku bahwa Maalik membenci haditsnya kepada penduduk ‘Iraaq. Ia datang ke Kuufah tiga kali, pada kedatangan yang pertama ia mengatakan, “Telah menceritakan kepadaku Ayahku, ia berkata, aku mendengar ‘Aaisyah,” pada kedatangan yang kedua ia mengatakan, “Telah mengkhabarkan kepadaku Ayahku, dari ‘Aaisyah,” dan pada kedatangan yang ketiga ia mengatakan, “Ayahku mengatakan, dari ‘Aaisyah.”

footnote :

[1] Hujjah, adalah ta’dil yang sangat tinggi di dalam ilmu jarh wa ta’dil. Perawi yang mendapat predikat hujjah melebihi status tsiqah dan riwayatnya diterima walau ia bersendirian (tafarrud).

[2] Al-Imam Abu Haatim Ar-Raaziy adalah ulama yang mutasyaddid dalam mentautsiq perawi. Jika seorang perawi hadits mendapat tautsiq dari beliau, maka berarti perawi tersebut tidak diragukan lagi bahwa haditsnya shahih. Adz-Dzahabiy berkata :

إذا وَثَّقَ أبو حاتم رجلاً فتمسّك بقوله. فإنه لا يوثِّق إلا رجلاً صحيح الحديث

“Jika Abu Haatim mentautsiq seorang perawi, maka berpeganglah dengan perkataannya. Karena sesungguhnya ia tidak mentautsiq kecuali seorang perawi yang shahih haditsnya.” [Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 13/260]

[3] Karena sebab inilah Al-Haafizh memasukkannya ke dalam golongan mudallis dalam kitabnya “Thabaqaat Al-Mudallisiin hal. 26″ pada mudallis thabaqah pertama, yaitu mereka yang tidak disifati dengan tadlis dan tidak dikenal melakukan tadlis kecuali sangat sedikit.

—-

Dikopi dari artikel “Umur ‘Aaisyah Ketika Dinikahi Rasulullah, Sebuah Studi Sanad Hadits”

Link artikel : https://muhandisun.wordpress.com/2015/02/19/umur-aaisyah-ketika-dinikahi-rasulullah-sebuah-studi-sanad-hadits/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: