Al-Hadits

Memahami Hadits Nabi Sesuai Pemahaman Salafush-Shalih

HADIST DHA’IF

pada 21 Januari 2013

 

وكُلّ ما عَنْ رُتبَةِ الحُسْنِ قصُر       فهُوَ الضعِيْفُ وهُوَ أقسامًًا كًثُر

“Dan setiap hadist yang di bawah derajat hasan adalah hadist dha’if, yang mana ia memiliki macam yang banyak”

Penjelasan :

Syaikh Ali bin Hasan al Halabiy hafidzahullah menjelaskan :

Hadist dha’if (lemah) adalah :

هو الذي لم يَجمع صفة الحَسن بفقد شرط مِن شروطه

“hadist yang tidak terkumpul padanya sifat hadist hasan karena tidak terpenuhi salah satu syaratnya”

Contoh : hadist yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudriy radhiyallohu ‘anhu, dia berkata bahwasannya Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا رَأَيْتُمْ الرَّجُلَ يَتَعَاهَدُ الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالْإِيمَانِ

“Jika engkau melihat seseorang yang senantiasa menjaga (hubungannya) dengan masjid, maka persaksikan keimanannya…”[1]

Derajat hadist di atas adalah dha’if karena ada seorang perawi bernama Darraj bin Sam’an Abu Samh[2]. Imam Dzahabiy berkata tentangnya, “Darraj banyak meriwayatkan hadist munkar”. Imam Ahmad berkata, “hadist-hadistnya munkar”. Ibnu Hajar berkata di dalam at Taqrib [1824], “shaduq, riwayatnya dari Abu Haitsam adalah dha’if”.

Saya (Syaikh Ali) berkata, “dan hadist ini dari jalur tersebut”.

Beberapa Faidah :

1. Hadist dha’if tidak bisa terangkat menjadi hadist hasan lighairihi dengan dua sebab :

a. Salah seorang perawinya tidak memenuhi syarat ‘adil.

b. Di dalamnya ada wahm (keraguan) dan khatha’ (kekeliruan).

2. Diperbolehkan menyampaikan hadist dha’if dengan dua syarat[3] :

a. Isinya tidak berkaitan dengan permasalahan akidah

b. Isinya tidak berkaitan dengan hukum syar’i.

3. Kitab-kitab yang memuat hadist-hadist dha’if :

a. Adh Dhu’afa oleh Ibnu Hibban[4]

b. Mizanul I’tidal[5] oleh adz Dzahabi[6]

c. Al Majruhin[7] oleh Ibnu Hibban

d. Adh Dhu’afa[8] oleh al ‘Uqailiy[9]

Allohu a’lam.


[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah [802], Darimiy [1/278], Ahmad [3/76], Ibnu Khuzaimah [1502], Tirmidziy [2617] dan beliau berkomentar, “hadist ini hasan gharib”.

[2] Lihat biografinya di dalam Tahdzibut tahdzib [3/208] dan al Mizan [2/24]

[3] Muhammad bin Shalih al Utsaimin menjelaskan, “…maka tidak boleh menukil dan menyampaikan hadist dha’if kecuali dengan menjelaskan kelemahannya. Orang yang menukil hadist dha’if tanpa menjelaskan kelemahannya kepada orang-orang maka dia termasuk salah satu dari dua pendusta atas Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya bahwasannya Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”(artinya) Barangsiapa yang menyampaikan sebuah hadist dariku yang dia mengetahui kedustaannya, maka dia termasuk salah satu dari dua pendusta”.

Karenanya tidak diperbolehkan meriwayatkan hadist dha’if kecuali dengan satu syarat, yaitu dijelaskan kepada manusia tentang kelemahannya. Sebagai contoh, seseorang yang meriwayatkan hadist dha’if dia katakan : diriwayatkan dari Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam hadist ini, derajatnya dha’if.

Sebagian ulama memberikan pengecualian terhadap hadist-hadist yang berbicara tentang targhib (anjuran) dan tarhib (ancaman). Mereka membolehkan periwayatannya dengan empat syarat :

1.        Hadist tersebut berkaitan dengan masalah targhib dan tarhib

2.        Kelemahan hadist tersebut tidak parah, sehingga tidak boleh meriwayatkannya meskipun isinya adalah targhib dan tarhib

3.        Hadist tersebut memiliki dasar yang shahih di dalam al Quran atau hadist lainnya yang shahih. Sebagai contoh, diperbolehkan meriwayatkan hadist dha’if yang berisi anjuran untuk berbuat baik terhadap orang tua, atau tentang shalat berjama’ah, atau tentang membaca Al Quran yang mana semua perbuatan tersebut ada dasarnya yang shahih di dalam al Quran dan as Sunnah.

4.        Tidak meyakini bahwa Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam mengatakannya demikian. Karena tidak boleh meyakini bahwa Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang sebuah hadist kecuali hadist yang telah pasti keshahihannya.”

Kemudian Syaikh Utsaimin rahimahullah melanjutkan perkataannya, “Akan tetapi yang nampak bagi saya, bahwasannya hadist dha’if secara mutlak tidak boleh disampaikan, kecuali untuk menjelaskan kelemahannya, terutama kepada orang-orang awam. Apabila Anda menyampaikan sebuah hadist dha’if kepada orang awam maka mereka akan meyakini hadist tersebut sebagai hadist yang shahih dan meyakini Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam yang mengatakannya.

Oleh karenanya, termasuk kaidah yang disepakati mereka, bahwa apa yang disampaikan di atas mimbar adalah sesuatu yang benar. Inilah kaidah yang ditetapkan oleh kalangan awam. Seandainya engkau membawakan sebuah hadist yang paling dusta niscaya mereka akan tetap membenarkannya, bahkan meskipun engkau menjelaskan kelemahannya, terutama di dalam masalah targhib dan tarhib. Sesungguhnya apabila seorang yang awam mendengar sebuah hadist, apapun itu, maka dia akan mengingatnya tanpa memperhatikan kesahihannya.

Alhamdulillah, sungguh di dalam Al Quran yang mulia dan Sunnah nabawi yang suci dan sahih terdapat apa-apa yang mencukupi dari hadist-hadist yang lemah”. Selesai perkataan Syaikh rahimahullah.

[4] Beliau adalah al Imam al Hafidz Muhammad bin Hibban bin Ahmad Abu Hatim at Taimimiy al Busti [w. 354H].

[5] Nama kitab secara lengkapnya adalah Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal

[6] Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Ustman adz Dzahabiy rahimahullah [w. 748H].

[7] Nama kitab secara lengkapnya adalah al Majruhin minal Muhadditsin wadh Dhu’afa wal Matrukin

[8] Nama kitabnya adalah Adh Dhu’afa al Kabir

[9] Beliau adalah al Hafidz Abu Ja’far Muhammad bin ‘Amr bin Musa bin Hammad al ‘Uqailiy al Makkiy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: