Al-Hadits

Memahami Hadits Nabi Sesuai Pemahaman Salafush-Shalih

MUQADDIMAH AL MANDZUMAH AL BAIQUNIYAH

pada 8 Januari 2013

Kitab Al Mandzumah al Baiquniyah

Penulis :

Penyusun bait-bait nadzam ini adalah Umar (atau Tohabin Muhammad bin Futuh al Bayquniy ad Dimasyqi asy Syafi’i rahimahullah, hidup sebelum tahun 1080 H/ 1669 M. Beliau adalah seorang ulama ahli hadist dan ushul, memiliki kitab lain dalam bidang ilmu hadist berjudul ”Fathul Qadir al Mughist”.

Beliau berkata :

اَبداَ بالحمد مصلِّيا علي

محمّد خير نبيّ اَُرسلا

”Aku mulai (kitab ini) dengan pujian (kepada Allah Ta’ala) dan bershalawat ke atas Muhammad shallallohu ’alaihi wa sallam, sebaik-baik Nabi yang diutus”.

Penjelasan :

Makna pujian (alhamdu) yaitu memuji dengan penuh rasa cinta dan pengagungan. Adapun pujian yang timbul dari rasa takut dan cemas disebut dengan al madhu (المدح).

Makna shalawat ke atas Nabi yaitu memintakan pujian kepada Allah Ta’ala untuk beliau. Adapun bila shalawat itu datangnya dari Allah maknanya adalah pujian dariNya untuk beliau. Demikian pendapat Abul ’Aliyah rahimahullah.[1]

وذي من اَقسم الحديث عدّه     وكل واحد اَتي و حدّه

”(kitab) ini akan membahas beberapa macam (ilmu) hadist; yang setiap macamnya akan dijelaskan pengertiannya”

Penjelasan :

Macam ilmu hadits yang akan dibahas dalam kitab ini adalah ilmu hadist secara dirayah, bukan riwayah.[2]

 

Dirayah maksudnya : pembahasan tentang kaidah atau dasar-dasar yang dengannya dapat diketahui sah atau tidaknya suatu hadist yang disandarkan kepada Nabi kita shallallohu ’alaihi wa sallam. Pokok bahasannya adalah : sanadmatan dan sifat rawi[3]

 

Riwayah maksudnya : Ilmu tentang meriwayatkan sabda Nabi shallallohu ’alaihi wa sallam, perbuatan, taqrir dan sifat-sifat beliau.[4]

Al haddu (الحدّ) bermakna : definisi dari sesuatu, yaitu sifat-sifat yang mencakup yang membedakan dengan selainnya.

Syarat pendefinisian : harus bersifat menyingkirkan dan memantulkan, yakni sesuatu yang dibatasi tidak ada yang keluar dari batasan, dan selainnya tidak ada yang bisa masuk ke dalam batasan tersebut. Contoh :

Apabila kita membatasi/ mendefinisikan ”manusia” sebagai ”hewan yang berbicara” maka : kata ”hewan” membatasi masuknya jenis-jenis selain hewan, seperti batu, air dan sebagainya. Kemudian kata ”berbicara” membatasi dari hewan-hewan yang tidak bisa berbicara seperti hewan ternak, hewan buas dan lain sebagainya.[5]


[1] Syarah al Mandzumah al Baiquniyah, Syaikh al Utsaimin hal. 22

[2] Idem, hal. 26

[3] Pengantar Ilmu Mushthalahul Hadist, Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat hal. 180

[4] Idem, hal. 174

[5] Syarah al Mandzumah al Baiquniyah, Syaikh al Utsaimin hal. 26-27

——-

sumber


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: