Al-Hadits

Memahami Hadits Nabi Sesuai Pemahaman Salafush-Shalih

Mujaalid bin Sa’iid Al-Hamdaaniy

pada 12 Oktober 2012

Mujaalid bin Sa’iid Al-Hamdaaniy.

Hampir semua muhadditsiin men-dla’if-kan Mujaalid. Yahyaa Al-Qaththaan mendla’ifkannya. Ibnul-Mahdiy tidak meriwayatkan hadits darinya. Ahmad berkata : “Mujaalid tidak ada apa-apanya (laisa bi-syai’)”. Di tempat yang lain ia (Ahmad) berkata : “Semua hadits Mujaalid dibuang”. Al-Bukhariy berkata : “Aku tidak menulis hadits Mujaalid dan Musa bin ‘Ubaidah”. Al-‘Ijliy berkata : “Orang Kuffah, jaaizul-hadiits, hasanul-hadiits”. Abu Zur’ah menyebutkannya dalam Asaamiyudl-Dlu’afaa’ (334). At-Tirmidziy berkata : “Sebagian ulama mendla’ifkan Mujaalid, dan ia seorang yang banyak salahnya”. Di lain tempat ia berkata : “Mujaalid bin Sa’iid diperbincangkan oleh sebagian ulama karena faktor hapalannya”. An-Nasaa’iy berkata : “Orang Kuffah, dla’iif”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Orang Kuffah, tidak kuat (laisa bi-qawiy)”. Di lain tempat ia berkata : “Tidak tsiqah”. [Lihat Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil, 2/431-432 no. 3738].

Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Tidak boleh berhujjah dengan haditsnya (laa yuhtaju bi-hadiitsihi)”. Di lain tempat ia berkata : “Dla’iif, waahiyul-hadiits”. Abu Haatim : “Mujaalid bukan seorang yang kuat haditsnya” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 8/biografi no. 1653]. Dalam riwayat Ad-Duuriy, Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Tsiqah” [At-Taariikh, 2/549]. Dalam riwayat Ad-Daarimiy, ia berkata : “Shaalih” [At-Taariikh, biografi no. 811]. Ibnu Hibbaan dan Al-‘Uqailiy memasukkannya dalam jajaran perawi dla’iif. Al-Jauzajaaniy mendla’ifkannya [Ahwalur-Rijaal, hal. 89 no. 126].

Ibnu Hajar memberikan kesimpulan : “Tidak kuat haditsnya (laisa bil-qawiy), berubah hapalannya di akhir umurnya” [At-Taqriib].

Ibnu ‘Adiy berkata : “Sebagian huffaadh berkata : Mujaalid mencuri hadits ini dari ‘Amr bin ‘Ubaid, lalu ia menceritakan dengannya dari Abul-Wadaak”. Apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Adiy, juga disebutkan oleh Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudluu’aat (2/26). Salah satu sumber perkataan Ibnu ‘Adiy dan Ibnul-Jauziy adalah perkataan Al-Jurqaaniy dimana ia berkata : “Mujaalid ini adalah dla’iif, munkarul-hadiits. Ia telah mencuri hadits ini dari ‘Amr bin ‘Ubaid, lalu menceritakan dengannya dari Abul-Wadaak, dari Abu Sa’iid dengan lafadh ini” [lihat Al-Abaathiil, 1/354].

‘Amr bin ‘Ubaid lahir tahun 80 H, meninggal 142 H. Mujaalid wafat 144 H. —- aqraan.

NB : Jika ada yang berhujjah bahwa Syu’bah meriwayatkan hadits darinya, sehingga ia berstatus tsiqah karena Syu’bah hanya meriwayatkan dari perawi tsiqah. Saya katakan : Memang benar sebagian huffadh mengatakan bahwa Syu’bah ini hanya meriwayatkan dari perawi tsiqah. Namun jika ada orang yang ingin membahas dan meneliti tanpa sikap taqlid, niscaya akan menemui banyak hadits Syu’bah yang ia riwayatkan dari perawi dla’if.

dikutip dari : Abul-Jauzaa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: