Al-Hadits

Memahami Hadits Nabi Sesuai Pemahaman Salafush-Shalih

Berbagai FAIDAH dari Doa Mohon diperbaiki urusan dunia dan akhirat

pada 14 Juni 2012


حَدّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ دِينَارٍ، حَدّثَنَا أَبُو قَطَنٍ عَمْرُو بْنُ الْهَيْثَمِ الْقُطَعِيّ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ الْمَاجِشُونِ، عَنْ قُدَامَةَ بْنِ مُوسَى، عَنْ أَبِي صَالِحٍ الَسّمّـَانِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ :

(Imam Muslim berkata), Telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Dinar, (dia – Ibrahim bin Dinar berkata), telah mengabarkan kepada kami Abu Qathon Amr bin Al-Haitsam Al-Qutho’iy, dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Abi Salamah Al-Majisyuni, dari Qudamah bin Musa dari Abu Sholih as-Sammaani dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alahi wassalam pernah bersabda:

«اَللَّـهُـَّم أَصْلِحْ لِي دِينِي الّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ»

“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang ia merupakan benteng pelindung bagi urusanku, dan perbaikilah duniaku untukku, yang ia menjadi tempat hidupku, serta perbaikilah akhiratku yang ia menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah kematian sebagai kebebasan bagiku dari segala kejahatan.”

(HR. Muslim no. 2720 (71) Derajat Hadits Shohih )

Fawaid dari doa ini adalah sebagai berikut:

Dinukil dari Kitab Tamamul Minnah Fi Ta;liq ‘Ala Fiqhis Sunnah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah hal 229.

ثم قال:” 15 وروى أبو حاتم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول عند انصرافه من صلاته: “اللهم أصلح لي ديني الذي هو عصمة أمري” … الخ”.

أقول: فيه أمور:

الأول : أنه عزاه لأبي حاتم وهذه الكنية إذا أطلقت فالمراد بها الإمام أبو حاتم الرازي واسمه محمد بن إدريس ووالد عبد الرحمن صاحب “الجرح والتعديل” وليس هو مخرج هذا الحديث وإنما هو أبو حاتم ابن حبان البستي فكان على المؤلف أن يصفه بشيء يرفع اللبس ولا سيما وهو قد نقل هذا التخريج من “زاد المعاد” لابن القيم وهو قد فعل ذلك فإنه قال: “وقد ذكر أبو حاتم في “صحيحه” … “. فقوله: “في صحيحه” اختصره المؤلف فوقع اللبس!

الثاني : أنه قد رواه من هو أعلى طبقة وأشهر من ابن حبان ألا وهو النسائي في “السنن” 1 / 197 – 198 وفي “اليوم والليلة” 137 وابن خزيمة في “صحيحه” 745 من طريق ابن وهب: أخبرني حفص بن ميسرة عن موسى بن عقبة عن عطاء بن أبي مروان عن أبيه عن كعب أن صهيبا حدثه به مرفوعا.

الثالث: أن ابن حبان رواه 541 – موارد من طريق ابن أبي السري قال: قرئ على حفص بن ميسرة وأنا أسمع: حدثني موسى بن عقبة … به. قلت: وابن أبي السري – واسمه محمد بن المتوكل – ضعيف لكثرة أوهامه بخلاف ابن وهب وهو عبد الله الإمام الحافظ الثقة فكان ذكر الحديث من رواية هؤلاء الذين رووه من طريقه أولى من عزوه لابن حبان كما لا يخفى وهذا من شؤم التقليد وعدم الرجوع إلى الأصول! ولذلك أعل المعلق على “زاد المعاد” 1 / 302 هذا الحديث بابن السري المذكور وخفيت عليه الطريق السالمة منه عند أولئك الأئمة ولو أنه أمعن النظر لوجد العلة من تابعي الحديث وهو أبو مروان والد عطاء قال النسائي: “ليس بالمعروف”. وأعتمده الذهبي في “الميزان” و “الضعفاء” لكن نقلب عليه الأمر فقال: “روى عطاء بن أبي مروان عن موسى بن عقبة عنه وهو والد عطاء”! فأدخل بين الابن والأب موسى وهو الراوي عن الابن عن أبيه كما رأيت. وأما في “الكاشف” فقال فيه: “ثقة”. وكأنه تبع في ذلك العجلي فإنه أورده في “ثقاته” 510 – 2038 وكذلك ابن حبان 5 / 585 ولم تطمئن النفس لتوثيقهما لما هو معروف من تساهلهما فنحن مع قول النسائي الذي اعتمده الذهبي في كتابه حتى نجد ما ينقلنا منه. وقد وجدت للحديث شاهدا من حديث أبي برزة الأسلمي قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا صلى الصبح – قال: ولا أعلمه إلا قال في سفر – رفع صوته حتى يسمع أصحابه: “اللهم أصلح … ” الحديث. أخرجه ابن السني في “عمل اليوم والليلة” 124 و509 من طريق إسحاق ابن يحيى بن طلحة: حدثني ابن أبي برزة وفي الموضع الآخر: ابن بريدة الأسلمي عن أبيه به.

قلت : وهذا إسناد ضعيف جدا إسحاق هذا تركه جمع وأشار أبو حاتم إلى أنه لا يعتبر بحديثه. يعني لشدة ضعفه فلا يصلح للاستشهاد به. نعم الحديث كدعاء مطلق قد جاء من حديث أبي هريرة إلى قوله: “معاشي” عند مسلم وقوله: “إني أعوذ برضاك … إلى: وأعوذ بك منك”. هو من أدعية السجود. وقد مضى في الكتاب والباقي من أدعية الاعتدال من الركوع كما تقدم ودبر الصلاة أيضا.

Fiqih Sunnah (Sayyid Sabiq) JILID 1/212 (cet. Al Fath Lil I’lam Arabiy) Abu Hatim meriwayatkan bahwa Nabi ketika selesai shalat berdoa ” Ya Allah, Jadikanlah agama yang menjadi pegangan bagi urusanku ini menjadi baik…dst.”

Saya (Syaikh Albani rahimahullah) berkata: Di dalam perkataan mua’alif (Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah) tersebut ada beberapa point

Pertama:

Mu’alif menisbatkan hadits kepada Abu Hatim. Nama panggilan ini secara umum ditujukan untuk Imam Abu Hatim Ar-Razi. Namanya adalah Muhammad bin Idris, ayah dari Abdurrahman penulis kitab Al-Jarh wat Ta’dil. Beliau (Abu Hatim) pencatat/Mukhorrij hadits ini. Yang mencatatnya adalah Abu Hatim Ibnu Hibban al-Busti (Dimana beliau adalah Penulis Shohih Ibnu Hibban). Maka seharusnya Mu’alif memberikan penjelasan yang dapat menghilangkan kerancuan (nama tersebut). Apalagi Mu’alif menukilkannya dari kitab Zaadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim. Mu’alif telah melakukannya (penukilan tersebut) hal tersebut dan beliau berkata: “Telah disebutkan Abu Hatim dalam “Shohihnya” (beliau mengatakan Shohih Ibnu Hibban namun hanya diringkas saja karena Abu Hatim Ar-Razi tidak memiliki kitab Shohih) Maka dalam perkataan Mu’alif : “Dalam shohihnya – mu’alif telah meringkasnya sehingga menyebabkan kerancuan”

Kedua :

Hadits ini diriwayatkan oleh perawi yang lebih masyhur dan lebih tinggi tingkatannya daripada Ibnu Hibban, Beliau adalah an-Nasa’i didalam as-Sunan (1/197-198) dan didalam kitab al-Yaum wal Lailah (no. 137), Ibnu Huzaimah (meriwatkan) melalui Shahihnya (no. 745) melalui jalur Ibnu Wahb : Telah memberitahukan kepada saya Hafsh bin Maisarah dari Musa bin ‘Uqbah dari ‘Atha’ bin Abi Marwan dari ayahnya dari Ka’ab , sesungguhnya Shuhaib menceritakan kepadanya (tentang hadits ini) secara Marfu’.

Ketiga :

Sesungguhnya Ibnu Hibban meriwayatkan (hadits ini) di dalam Mawarid-541 (Mawaridz Adz Dzom’an) melalui jalur Ibnu Abi as-Sirri, beliau berkata: “Telah dibacakan (hadits ini) kepada Hafsh bin Maisarah dan saya mendengar : “Telah menceritakan kepadaku Musa bin ‘Uqbah…(hadits ini). Saya berkata : “Ibnu Abi as-Sirri –namanya adalah Muhammad bin al-Mutawakkil- dia orang yang Dhoif karena banyak keragu-raguannya, Berbeda dengan Ibnu Wahb dan beliau adalah Abdullah yang merupakan seorang Imam, hafidz dan terpercaya. Maka menyebutkan hadits yang diriwayat oleh mereka yang mengambil dari jalur Ibnu Wahb lebih baik daripada menisbatkannya (menyebutkan hadits) kepada Ibnu Hibban dan hal itu telah jelas sekali. Inilah taqlid yang jelek tanpa merujuk kembali kepada ilmu Ushul. Karena itu pengkritik dari kitab Zadul Ma’ad (1/302) menganggap mu’tal/ cacatnya hadits ini karena menyebutkan Ibnu as-Sirri, sehingga menjadi samarlah jalur yang selamat disisi para imam (yang menisbatkan hadits kepada Ibnu Hibban) karena adanya penyebutan ibnu as-Sirri. Padahal kalau saja dia mau memperhatikan dengan cermat, tentu ia akan menemukan bahwa cacat itu berasal dari seorang tabi’in yang meriwayatkan hadits, yaitu Abu Marwan yang merupakan Bapak dari ‘Atho'” (Atho’ bin Marwan adalah seorang yang hidup semasa dengan shighor tabiin/tabiin yang sedikit pergaulannya dengan shahabat, meninggal tahun 130 H – Admin). An-Nasa’i berkata mengenai Abu Marwan : “Ia tidak dikenal”. Pernyataan ini dipegang oleh adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Mizan (Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijaal) dan ad-Du’afa’ (Diwan Ad-Du’afa), akan tetapi kemudian beliau membalik urutan sanad dan berkata : ” ‘Atho’ bin Marwan meriwayatkan dari Musa bin ‘Uqbah darinya yakni bapaknya ‘Atho'” Adz-Dzahabi memasukkan Musa bin ‘Uqbah antara anak dan bapaknya sebagaimana yang telah anda ketahui. Sedangkan dalam kitab “Al-Kasyif, adz-Dzahabi berkata tentang Abu Marwan: “Ia terpercaya” Sepertinya adz-Dzahabi dalam tersebut mengikuti al-Ajli yang mengatakan demikian dalam ats-Tsiqat (510-2038) dan Ibnu Hibban (5/585). Namun Karena al-Ajli dan Ibnu Hibban dikenal kurang hati-hati dalam memberikan nilai kepercayaan (terhadap periwayat hadits) , maka kami (Syaikh Albani) memilih pernyataan an-Nasa-i yang menjadi pegangan adz-Dzahabi dalam karyanya hingga kami (Syaikh Albani ) menemukan pernyataan yang dapat meluruskan dari penyandaran sementara ini. Saya (Syaikh Albani) menemukan penguat bagi hadits Abu Barzakh al-Aslami yang mengatakan : “Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam ketika telah selesai sholat Shubuh, dia (Abu Barzakh) mengatakan, “Dan aku tidak mengetahui kecuali beliau mengucapkan dalam perjalanan menyaringkan suaranya hingga terdengar para shahabat (berdoa dengan lafazh), “Ya Allah perbaikilah…”dsb. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu As-Sunni di dalam Amal al-Yaum wal Lailah no. 124 dan 509 melalui jalur Ishak bin Yahya bin Tolha: “Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abi Barzah (dalam tempat lain: Ibnu Buraidah) al-Aslami dari bapaknya.”

Saya (Syaikh Albani rahimahullah) berkata: Sanad hadits ini sangat lemah (dho’if jiddan). Ishak adalah seorang matruk (ditinggalkan haditsnya) oleh sekelompok besar para ulama. Abu Hatim mengisyaratkan untuk tidak diperhitungkan hadits Ishak, karena sangat lemahnya maka tidak layak dijadikan sebagai penguat/syahid. Betul, doa secara umum telah ada dalam hadits Abu Hurairah sampai kata-kata: “Ma’asi (tempat tinggalku) menurut riwayat Muslim. Sedangkan doa (yang artinya) : “Sesungguhnya aku berlindung dengan keridhoan-Mu…sampai Dan aku berlindung kepadamu-Mu dari-Mu”, adalah termasuk doa sujud seperti telah disebutkan dalam kitab ini dan sisanya adalah doa tegak dari rukuk dan setelah selesai sholat. ”

Fawaid yang dapat diambil adalah:

Pertama

Siapakah Ibnu Hibban al-Busty ?

Nama kunyah dari Ibnu Hibban al-Busty adalah Abu Hatim. Dan Nama beliau lengkapnya adalah Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Muadz bin Ma’bad bin Sahid at-Tamimy. Beliau lahir sekitar tahun 270 H di daerah Busta suatu daerah di dekat Sijistan – dekat Iran Timur yaitu antara Iran dan Afghanistan, Kemudian beliau pindah ke Khurasan (daerah di Afghanistan) lalu Syiria ke Mesir kemudian Irak dan pernah tinggal lama di daerah Samarqandi (Ibu Kota Uzbekistan) dan meninggal pada tahun 354 H.

Di dalam mendalami ilmu, baliau banyak mangambil dari syaikh-syaikh terkemuka di masanya. di antara syaikh-syaikh yang beliau temui adalah Syaikh Al-Fadl bin Al-Hubaab al-Jumakhi, Syaikh Zakariya As-Saaji dari Bashrah, Syaikh Abu Abdurrahman Annasai, Syaikh Ishaq bin Yunus, Syaikh Abi Yala dari Mausul, Syaikh Al-Hasan bin Sofyan, Syaikh Umran bin Musa bin Mujasi dari Jurjan, Syaikh Ahmad bin Al-Hasan dari Baghdad, Syaikh Jafar bin Ahmad, Syaikh Muhammad bin Khuraim dari Damaskus, Syaikh Ibnu Khuzaimah, Assarraj dari Naisaburi, Syaikh Muhammad bin Alhasan bin Qutaibah dari Asqalan, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Salam dari Baitul Maqdis, Syaikh Said bin Hasyim dari Thabariah, Syaikh Muhammad bin Abdurrahman As-Saami, Al Husain bin Idris dari Haraah, Syaikh Ahmad bin Yahya Zuhair dari Tustar, Syaikh Umar bin Said dari Manbaj, Syaikh Abi Yala Zuhair dari Ubulah, Syaikh Abi Arubah dari Harran, Syaikh Al-Mufadlal Al-Janady dari Makkah, Syaikh Ahmad bin Ubaidillah Ad-Daarimi dari Antakiya, Syaikh Umar bin Muhammad bin Bujair dari Bukhara.

Murid-murid Ibnu Hibban

Di antara murid-murid beliau adalah Abu Abdillah bin Mandah, Abu Abdillah Al-Hakim, Mansur bin Abdillah Al-Khalidi, Abu Muadz Abdurrahman bin Muhammad bin Rizqillah As-Sijistani, Abul Hasan Muhammad bin Ahmad bin Harun Az-Zauzaniy, Muhammad bin Ahmad bin Mansur An-Nuuqaaty dan masih banyak lagi yang menimba ilmu dari beliau.

Abu Sa’id al-Idris berkata : Ia adalah seorang qadi di wilayah samarkhand dalam beberapa masa, seorang yang faqih dalam urusan agama, menghafal banyak dari atsar, mengetahui ilmu kedokteran, perbintangan, dan macam-macam ilmu seni. Ia membuat Musnad Shahih dengan nama AL-ANWA’ WA TAQAASIM´. Ia juga mengarang kitab At-Taarikh, dan kitab Ad-Du’afa’. Dan ia mengajarkan fiqih di Samarkand.

Tentang beliau Imam adz-Dzahabi berkata : Ia pemilik bermacam pengetahuan, pengarang kitab Jarhu wa Tadil, dan yang lainnya, ia termasuk ulama’ terkemuka sezamannya, ia mencari ilmu pada tahun tiga ratusan hijriyah, ia bertemu dengan Abu Khulaifah dan Abu Abdurrahman an-Nasai, ia mengarang buku di Syam, Hijjaz, Mesir, Irak, Jazirah, dan Khurasan. Ia menjadi Qadhi/Hakim di wilayah Samarkhand dalam beberapa waktu, ia mengetahui ilmu tentang kedokteran, perbintangan, ilmu kalam, fiqih, dan pokok-pokok ilmu hadist.

(Lihat Al-A’lam liz Zarkali 6/78 cet. Darul Ilmi Lil Malayin th. 2002 dan Siyar A’lam an-Nubala 16/92 cet. Muassassah Ar-Risalah )

Kedua

Kitab Fiqhus Sunnah karya Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah adalah kitab yang sangat baik untuk kita pelajari terutama tentang masalah fiqih, namun hendaknya kita harus melihat dan merujuk perkataan para Ulama Ahli Hadits tentang keotentikan hadits-hadits dan tambahan perkataan Sayyid Sabiq di dalam kitabnya tersebut. Salah satunya antum bisa dapatkan di kitab Tamamul Minnah fi Ta’liq ‘Ala Fiqhis Sunnah karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah. Lebih ahsan lagi kalau antum bisa belajar langsung kepada Syaikh yang mumpuni dalam mengajarkan kitab tersebut.

Ketiga

Siapakah Ibnu Abi Hatim?

Ibnu Abi Hatim Ar-Razi (lahir tahun 240 H dan wafat tahun 327 H). Beliau bernama Abdurrahman bin Muhammad bin idris bin Al-Mundzir bin Dawud bin Mahran, berkunyahkan (nama kunyahnya) Abu Muhammad Ibnu Abi Hatim at-Tamimi al-Handzoli, seorang imam anak dari seorang Imam (Beliau adalah seorang Imam ( Ahlul Hadits) anak dari Abu Hatim yang juga seorang Imam (Ahlul Hadits)), beliau sering berkelana menemani bapaknya untuk mencari hadits. Beliau mendengar hadits dari Bapaknya yaitu Abu Hatim ar-Razi, juga Abu Zur’ah Ar-Razi shahabat bapaknya, Al-Hasan bin Arafah, Ahmad bin Sinan al-Qaththon, Abu Saíd As-Saji, Yunus bin Abdil A’la dan beberapa orang ulama lainya dari Hijaz, Syiria, Mesir, Irak dan lainnya.

Beliau menulis kitab al-Jarh wat Ta’dil, sebuah kitab besar tentang penilaian terhadap para perawi hadits yang berjumlah 8 jilid. Beliau juga menulis kitab tentang tafsir beberapa jilid dan diantaranya dua jilid masih merupakan manuskrip, juga menulis kitab Ar-Rad Ála al-Jahmiyah (Bantahan terhadap al-Jahmiyah), Ilalul Hadits, Al-Musnad, Al-Kuna, Al-Fawaid al-Kubro dan kitab-kitab lainnya. (Lihat Thobaqat asy-Syafiíyah al-Kubro oleh As-Subki 3/324 no. 207 cet. Hajr liththobat wan Nashr wat Tauzi’ tahun 1413 H)

لَمْ يَدَعْنِى أَبيِ أَشْتَـغِلُ فِي الحَدِيثِ حَتّىَ قَرَأتُ الْقُرْآنَ عَلَى الْفَضْلِ بْنِ شَاذَانِ الرّازِي ثُمّ كَتَبْتُ الحَدِيثَ

Ibnu Abi Hatim berkata, “Aku tidak dibiarkan oleh Bapakku untuk sibuk dalam mempelajari hadits sampai aku selesai mempelajar Qur-an dari Al-Fadl bin Syadzani ar-Razi baru kemudian aku (diperbolehkan) menulis hadits.” (Lihat Thobaqat asy-Syafiíyah al-Kubro oleh As-Subki 3/325 )

Ini merupakan contoh tarbiyah/pendidikan dari seorang bapak kepada anaknya, dimana Abu Hatim ar-Razi tidak membolehkan anaknya Ibnu Abi Hatim sibuk dalam mempelajari hadits sampai selesai mempelajari al-Qur-an. Nilai pelajaran/faidah yang bisa kita petik adalah :

Selayaknya bagi orang tua untuk sedini mungkin membimbing anak-anaknya untuk mempelajari al-Qur-an terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu yang lainnya. Alasan utama hal tersebut adalah anak kecil itu masih mempunyai kemampuan menghafal yang lebih baik dan lebih cepat daripada seorang dewasa, sehingga manakala si anak mampu menghafal ketika usia dini maka ia tidak akan lupa hingga usianya lanjut seperti memahat sesuatu di atas batu lebih baik daripada memahat di atas air ataupun bahan yang mudah rusak lainnya.

Keempat

Fawaid yang diambil dari kitab Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadhus Sholihin oleh Syaikh Salim bin Al-Hilaly II/545-546 cet. Dar Ibnul Jauzy tahun 1425 H, pada hadits no. 1472.

  • Islam itu memberikan pengayoman bagi seorang hamba dari perbuatan salah dan khilaf serta mencegah dari perbuatan menuruti hawa nafsu yang keji.
  • Seorang muslim itu senantiasa bersungguh-sungguh melakukan amalan-amalan (kebaikannya)  di dunia seolah-olah ia akan hidup selama-lamanya dan beramal untuk akhiratnya seolah-olah ia akan meninggal esok harinya.
  • Panjangnya usia seorang muslim memberikan kesempatan kepadanya untuk mendapatkan tambahan kebaikan dari berbagai amal kebaikannya

Demikian beberapa fawaid pelajaran-pelajaran penting yang bisa kita ambil dari Doa Mohon Diperbaiki Dunia Akhirat. Semoga bermanfaat.

Maraji’

  1. Shohih Muslim cet. Dar Ibnu Hazm tahun 1423 H
  2. Tamamul Minnah Fi Ta;liq ‘Ala Fiqhis Sunnah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah cet. Dar ar-Rayah th. 1425 H
  3. Fiqih Sunnah oleh Sayyid Sabiq, cet. Al Fath Lil I’lam Arabiy
  4. Al-A’lam liz Zarkali oleh Az-Zarkali ad-Dimasyky cet. Darul Ilmi Lil Malayin th. 2002
  5. Siyar A’lam an-Nubala oleh Imam adz-Dzahabi cet. Muassassah Ar-Risalah th. 1405
  6. Thobaqat asy-Syafiíyah al-Kubro oleh As-Subki cet. Hajr liththobat wan Nashr wat Tauzi’ tahun 1413 H
  7. Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadhus Sholihin oleh Syaikh Salim bin Al-Hilaly, cet. Dar Ibnul Jauzy tahun 1425 H

——-

artikel : http://belajarhadits.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: