Al-Hadits

Memahami Hadits Nabi Sesuai Pemahaman Salafush-Shalih

MUSHTHALAH HADIST RASUL (bagian-1)

pada 12 Juni 2012

MUSHTHALAH HADIST RASUL

OLEH : HAFIDZ TSANAULLAH AZ ZAHIDY

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya bagi Allah ‘, shalawat dan salam ke atas Nabi terakhir Muhammad ibn Abdillah “_, ke atas keluarga dan sahabat beliau dan ke atas orang-orang yang berpegang kepada agama dan petunjuk beliau. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad“_ adalah hamba dan utusanNya. Amma ba’du.

Kitab ini berisi beberapa pelajaran ilmu mushthalah hadist Nabi yang mulia, sesuai dengan kurikulum bagi pelajar tahun kedua di Universitas Islam (Al Jami’at al Islamiyah) di kota Shadiq Abad – Pakistan. Saya mengumpulkannya dari kitab-kitab milik ulama hadist yang sekiranya mencukupi bagi para pelajar di tingkat awal, yakni pembahasan yang penting mengenai ilmu yang mulia ini, dengan memakai metode yang mudah dan jelas, keterangan yang ringkas namun mencukupi, di dalam sebuah risalah yang saya namai dengan “Fushul fi Mushthalahi Hadisti ar Rasuli” (Pasal-pasal dalam Ilmu Mushthalah Hadist).

Hanya kepada Allah ‘ saya memohon agar risalah ini bermanfaat bagi para penuntut ilmu, agar Allah menerima amal saya, Dia Yang Memiliki taufiq, Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang layak diminta, dan segala puji hanyalah bagi Rabb semesta alam.

 

PELAJARAN PERTAMA

ADAB PENUNTUT ILMU

1. Kewajiban pertama bagi orang yang mempelajari hadist Rasulullah “_ adalah niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu, yakni hanya bertujuan mengharapkan wajah Allah semata, tidak menjadikan ilmu ini sebagai alasan untuk menggapai tujuan-tujuan duniawi.

Abu Hurairah (# meriwayatkan secara marfu’ :

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْماً مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ الله لا يَتَعَلَّمُهُ إلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضاً مِنَ الدُّنْياَ لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ    الْقِيَامَةِ »صحيح أخرجه أبوداود برقم [3664] ، وابن ماجه برقم [252]

” Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya hanya ditujukan untuk mengharapkan wajah Allah, namun dia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan dunia maka dia tidak akan mencium baunya surga pada hari kiamat” (Sahih, HR. Abu Dawud : 3664 dan Ibnu Majah : 252)

Diriwayatkan dari Jabir ibn Abdillah (# secara marfu’ :

لا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمـَاءَ وَلا لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلا تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فـَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ »صحيح أخرجه ابن ماجه برقم [254] وابن حبان في الصحيح [674] .

” Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk membanggakan diri di hadapan ulama, jangan pula untuk mendebat orang-orang bodoh, jangan pula untuk memilih-milih majelis. Siapa yang melakukannya maka baginya neraka, baginya neraka” (Sahih, HR. Ibnu Majah : 254 dan Ibnu Hibban : 674).

2. Wajib bagi penuntut ilmu untuk bersungguh-sungguh dalam menghiasi diri dengan akhlak mulia dan adab yang terpuji.

Abu Darda’ (# meriwayatkan secara marfu’ :

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيْـزَانِ أَثْقَلُ مِنَ حُسْنِ  الْخُلُقِ » . صحيح أخرجه الترمذي برقم [2003]

” Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya dari akhlaq yang baik” (Sahih, HR. Tirmidzy : 2003)

Dari Abdullah ibnu ‘Amr (# secara marfu’ :

خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاقاً » صحيح أخرجه الترمذي برقم [1975]

” Orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (Sahih, HR. Tirmidzy : 1975).

Berkata Abu ‘Ashim an Nabil رَحِمَهُ الله : “Orang yang mencari hadist sungguh dia mencari sesuatu yang paling tinggi, maka wajib baginya menjadi manusia yang paling baik”

3. Wajib bagi penuntut ilmu hadist untuk mengamalkan hadist yang dia dengar. Abu Barzah al Aslamy (# meriwayatkan secara marfu’ :

لا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يُسْئَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أبْلاهُ » صحيح رواه الترمذي برقم [2417]

”Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga dia ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan; tentang ilmunya bagaimana dia amalkan; tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia belanjakan; dan tentang badannya untuk apa dia gunakan” (Sahih, HR. Tirmidzy : 2417).

4. Wajib bagi penuntut ilmu untuk menghormati, menyayangi dan memuliakan gurunya. Anas ibn Malik (# meriwayatkan secara marfu’ :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَلَمْ يُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا » صحيح رواه الترمذي برقم [1919] ، وأحمد في المسند برقم [2325]

” Bukan dari golongan kami, orang yang tidak menyayangi orang yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua” (Sahih, HR. Tirmidzy : 1919 dan Ahmad : 2325).

5. Wajib bagi penuntut ilmu hadist agar tidak bakhil mengajarkan apa yang dia dengar dan dia pahami kepada saudaranya sesama penuntut ilmu yang kurang paham dan kurang cerdas dibanding dia. Dan ini adalah salah satu penyakit yang menimpa kebanyakan para pelajar. Imam Malik berkata : “Termasuk berkah (belajar) hadist adalah saling memberi faidah satu sama lain”.

Pernah sebagian pelajar terlewatkan dari menulis hadist sehingga berkata syaikh mereka (Ishaq ibn Rahuwaih) : “Salinlah apa yang terlewat dari tulisan murid yang lainnya!”. Si murid berkata “Mereka tidak menguasakannya kepada saya.” Syaikh berkata “Sungguh mereka tidak beruntung”.

6. Hendaknya seorang penuntut ilmu tidak terhalangi oleh sifat malu dan sombong dalam meraih ilmu, dan tidak merasa rendah untuk menulis apa yang bermanfaat buat dirinya meskipun diperoleh dari orang yang di bawahnya.

——-

artikel : http://www.reevy.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: